Realisasi Sistem FRS Baru di Jurusan Teknik Kimia ITS
Antusiasme mahasiswa Teknik Kimia ITS pada pekan Forum Rencana Studi (FRS) tanggal 23-27 Agustus 2010 lalu tidak lagi membuahkan tragedi seperti yang terjadi di semester lalu. Tragedi yang dimaksudkan adalah pencurian mata kuliah secara online oleh mahasiswa Teknik Kimia sendiri. Selain sistem FRS yang kini sudah bisa diakses menggunakan internet di seluruh Indonesia, pihak jurusan juga telah memperbaharui sistem FRS semester lalu sebagai antisipasi terulangnya tragedi FRS yang pernah terjadi. Sistem FRS yang baru tidak memungkinkan para mahasiswa beda angkatan berebut mata kuliah di waktu yang sama.
Berdasarkan forum mengenai FRS antara jurusan dan mahasiswa, telah disepakati hasil yang menunjukkan adanya pembagian waktu dalam pengisian FRS untuk tiap angkatan. Hasil forum mewajibkan angkatan 2007 dan angkatan di atasnya melakukan FRS pada hari Senin pukul 07.00 WIB. Sedangkan angkatan 2008 diperbolehkan melakukan pengisian FRS pada hari Selasa pukul 07.00 WIB dan angkatan 2009 pada hari Rabu di waktu yang sama. Hasil kesepakatan juga melarang para mahasiswa mengisi FRS sebelum hari yang sudah ditetapkan.
“Mahasiswa yang lebih senior memiliki sisa SKS (Satuan Kredit Semester, red) yang sedikit dan cenderung lebih santai saat pengisian FRS, sehingga mereka kalah cepat dengan adik-adiknya yang berusaha mengambil jumlah SKS secara penuh, yaitu 24 SKS. Karena itu memang menjadi hak mereka. Hal itu kemudian mengakibatkan banyak mahasiswa yang lebih senior tidak mendapatkan kelas,” tutur Ibu Nuniek selaku Kepala Bagian Pengajaran Teknik Kimia ITS.
Namun, setelah berlangsungnya FRS minggu lalu, agaknya Ibu Nunik masih menjumpai kekurangan dengan sistem FRS baru yang telah diterapkan. Beliau masih terus berusaha mengevaluasi sistem yang baru ini demi kelancaran FRS di semester-semester selanjutnya.
“Yang masih perlu diperbaiki adalah mengenai kuota kelas. Seperti kita ketahui, kuota maksimal per kelas adalah 40 mahasiswa. Namun pada kenyataannya jumlah kuota tersebut tidak mencukupi, karena ada mahasiswa yang mengulang mata kuliah tersebut dan ada pula mahasiswa yang ingin menambah mata kuliah yang bukan mata kuliah di semesternya.
Bahkan terakhir kali saya mendapati masih banyak mahasiswa yang mengulang mata kuliah hanya karena tidak puas dengan nilai yang sudah didapat, seperti misalnya mereka yang mendapat nilai C. Padahal dengan nilai itu mereka masih bisa lulus, “ tambah Ibu Nuniek.
Mahasiswa sendiri menilai sistem FRS yang baru lebih teratur dibandingkan dengan sistem FRS yang diterapkan sebelumnya. Lely Andarwati, sekretaris Education Student Prosperity (ESP) Himatekk mengatakan, “Sistem yang sekarang memang lebih teratur, mengingat jika ada masalah FRS tiap angkatan yang sebelumnya terjadi sudah bisa ditangani. Dengan begitu dalam satu hari permasalahan satu angkatan dapat dikoordinir dengan cepat.”
Namun, sempat terjadi gangguan di hari pertama pengisian FRS yang menyebabkan mahasiswa angkatan 2007 dan angkatan di atasnya tidak bisa melakukan pengisian FRS sesuai jadwal. Bahkan pengisisan FRS baru bisa dilakukan berjam-jam setelah jadwal yang ditentukan, yaitu pukul 07.00 WIB. harus mengalami.
“Daftar mata kuliah tidak muncul tepat sesuai jam yang dijadwalkan karena ada masalah jaringan dari pusat yang bersifat teknis,” ujar Lely, menanggapi masalah gangguan sistem tersebut.
Sedangkan pada hari kedua dan ketiga, pengisian FRS berjalan dengan lancer, walaupun sempat terjadi beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh angkatan 2008 dan 2009. Pelanggaran itu berupa “curi start” pengisian FRS, yaitu pengisian FRS lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Tindakan berupa sanksi tegas yang sebelumnya telah disepakati dalam forum antara jurusan dan mahasiswa ditegakkan dalam pelanggaran ini. Pihak pemantau FRS yang sebelumnya telah dibentuk sebagai pengawas mencantumkan nomor induk mahasiswa atau biasa dikenal dengan NRP para pelanggar di majalah dinding yang berada tepat di tengah pusat kampus Teknik Kimia, yaitu plasa Teknik Kimia ITS. (zu)















